Husnuzhan Itu Amal Kebaikan Disertai Roja’ Dan Khauf

 

Oleh : Abu Fahmi Ahmad, Imam Bukhari -Jawa Barat

T elah kita maklumi bahwa Allah itu tidak akan pernah menyelisihi janji-janji Nya, selalu menepatinya sesuai janji Nya. Berprasangka baik kepada Allah (Husnu zhann billah) merupakan kelaziman bagi setiap mukmin, oleh karenanya seorang mukmin itu selalu "baik", bersyukur ketika dalam kelapangan dan bersabar ketika dalam kesempitan.

Berbuat baik sebagaimana diisyaratkan dalam surat an Nahl: 97 bagi seorang mukmin merupakan sebuah kenisacayaan, mengapa tidak ? Hanya orang jahil saja yang tak yakin atau raguragu atas janji-janji Allah

Allah berfirman :

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة، ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."

(QS An Nahl : 97)

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

 

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa orang yang baik dan berbaik sangka kepada Allah, dia akan mendapatkan balasan atas kebaikannya itu, dan Dia tidak akan mengingkari janji-Nya dan akan menerima taubat hamba-Nya.

Terdapat dalam sebuah hadits Qudsi, bahwa Allah SWT berfirman:

أَنا عِنْدَ حُسْنِ ظَنِّ عبْدِي بِيْ فَلْيَظُنُّ بِيْ ماشاءَ

"Aku selalu berada di pihak hamba-Ku yang berbaik sangka kepada-Ku, oleh karena itu hendaknya ia berprasanghka kepada-Ku sesuai dengan apa yang ia kehendaki" Hadits ini dikeluarkan oleh Ad Darimi dalam kitab Sunan-nya yang diterima dari Wailah bin Al Asqa'.

Sebaliknya bagi hamba-Nya yang selalu berprangka buruk kepada-Nya, selalu melakukan dosa dan nkemaksiatan, dan kezhaliman serta sering melakukan berbagai kesalahan, maka dosa dari perbuatannya itu dapat menghambat adanya berbaik sangka kepada Allah. Inilah yang sering terjadi dalam realita kehidupan hamba-hamba Allah di muka bumi ini.

Dalam hadits di atas, terkandung makna, bahwa apa saja yang menjadi sangkaan hamba-Ku, Aku akan melaksanakannya. Tidak ditagukan lagi bahwa berbaik sangka itu dapat terjadi karena disertai dengan kebaikan.

Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, mana kala berbuat baik (amal shalih), pastilah dia dalam keadaan yakin dan berbaik sangka kepada Allah, yang menjanjikan kebaikan-kebaikan berupa balasan di dunia dan di akhirat : yaitu berupa "Kehidupan yang Layak" (Hayatan thayyibah) di dunia dan "jannah an Na`iim" kelak di akhirat. … QS An Nahl: 79.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, bahwa jika ada seorang ham,ba sahaya ,elarikan diri dari tuan-nya dan tak menaati perintahnya, artinya ia tidak mau berbaik sangka kepadanya.

Tindak kejahatan selamanya tidak akan pernah bersatu dengan berbaik sangka. Kebrutalan seseorang dalam melakukan kejahatannya sangat tergantung kepada kadar kejahatan yang dia lakukakannya. Sedangkan berbaik sangka kepada Allah (husnu zhann billah) adalah orang yang taat kepada-Nya. (Simak uraiannya dalam kitab Ad Da`u wad Dawa'u, al Jawabul Kaafi Liman sa`ala `anid Dawaa`i sy Syaafi).

Sebagaimana dikatakan oleh al Hasan al Bashri rahimahullah berikut :

(إِنَّ المُؤْمِنَ أحْسَنُ الظَّنّ بِرَبِّهِ فَأَحْسَنَ العَمَل وَ إِنَّ الفَاجِرَ أساءُ الظّنّ برَبّه فأسَاء العَمَل)

"Orang mukmin yang berbaik sangka kepada Rabbnya, maka ia senantiasa akan melakukan amal kebaikan. Sebailknya, orang jahat yang berpasangka buruk kepada Rabbnya, maka ia selalu melakukan kejahatan".

Bagi orang yang lari dari Allah dan melupakan-Nya, mana mungkin ia berbaik sangka kepada-Nya, dan merasa aman dalam melakukan berbagai tindak kejahatan, kriminalitas, maupun kemungkaran besar lainnya, yang justru mendatangkan kemurkaan Allah dan laknat Nya. Sebenarnya yang terjadi atas hamba seperti ini (su`u zhann billah) adalah merendahkan hak-hak Allah dan perintah Nya, sehingga menyia-nyiakan-Nya. Dia berani mengerjakan larangan-Nya bahkan terus berulang mengerjakannya. Mustahil baginya untuk berbaik sangka kepada Allah, bagi orang yang selalu menentang dan memusi Nya secara terang-terangan, dan menentang kekasih-kekasih Nya dan mencintai musuh-musuh Nya, mengingkari seluruh sifat-sifat Nya dan berburuk sangka terhadap apa yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah menggambarkan kondisi hamba yang menuduh Allah tidak berbicara, tidak memerintahkan dan tidak melarang, berikut ini:

ذلكم ظنكم الذي ظننتم بربكم أرد ـكم فأصبحتم من الخاسرين

23. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, Maka jadilah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. QS Fush shilat: 23.

Mereka menduga bahwa Allah itu tidak mengetahui apa-apa yang mereka ketahui. Inilah bentuk buruk sangka mereka kepada Allah. Inilah keadaan orang yang mengingkari kesempurnaan Allah serta keagungan Nya, dan ia mensifati Allah dengan sifat-sifat yang tak layak sama sekali bagi-Nya.

Jika orang semacam in mengira akan masuk surga, maka sangkaan itu adalah tipuan belaka yang timbul dari nafsunya sendiri, golongan setan. Bukan berbaik sangka kepada Allah.

Husnu zhann billah adalah Husnul `Amal :

Ramadlan telah meninggalkan kita, ujian konsistensi amal kita pun kini diuji oleh Nya, apakah selama ini kita beramal dan beribadah karena "husnu zhan billah" atau karena "ghurur" (tertipu) oleh zu'u zhan billah kita kepada-Nya ?

Sebab jika kita berhuznu zhann billah, pastilah kita mengisi ramadlan yang suci lagi penuh ampunan itu dengan amal-amal kebaikan (amal fardiyah dan jama`iyah, jasadiyah, qalbiyah, dan maliyah), atas dasar "imaanan wa ihtisaaban".

Bukan beramal karena terttipu oleh nash-nash dusta, palsu lagi munkar, atau dari pemahaman salah terhadap nash yang shahih. Jika anda termasuk pelaku maksiat dan kemungkaran besar sebelum memasuki bulan Ramadlan, tanpa merasa perlu taubat, dan bahkan merasa aman dari makar Allah, maka ketahuilah Anda dalam kondisi "su`u zhann billah" (Berburuk sangka kepada Allah), ….. lalu berharap (yang benar ber-tamanni, angan-angan kosong, ghurur, tertipu) mendapat kifarat (penghapusan dosa) dari Allah dengan berpuasa di bulan itu, karena menduga bahwa dosa-dosa yang akan dihapus bagi orang shaum itu meliputi dosa besar dan kecil…. Padahal kifarat itu hanya untuk dosa kecil, sebagaimana dijelaskan pada hadits "kifarat" dari shalat wajib keshalat berikutnya, dari jum`at ke jum`at berikutnya, dan dari ramadlan ke ramadlan berikutnya …

(الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ماجتنبت الكبائر)

JUga dikuatkasn oleh firman Allah dalam QS An Nisa' : 31.

إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه نكفر عنكم سيئاتكم وندخلكم مدخلا كريما

31. Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Karena Anda mengira, bahwa perbuatan korupsi, memakan riba, curang dalam timbangan, durhaka kepada orangtua, berzina dan dayyuts, berlaku zhalim, memakan harta orang lain dengan tidak halal, dan dosa besar lainnya …. Semuanya itu akan dihapus oleh Allah secara otomatis, karena pemahaman nash yang keliru …. Maka sebenarnya yang sedang Anda lakukan itu adalah "tamanni" (angan-angan) dan "ghurur" (tiupoan) dan sama sekali bukan "husnu zhann billah" atau "ar roja'" (harapan atas janji dan pahala Nya).

Apabila dalam berbaik sangka kepada Allah itu disertai dengan menuruti keinginan hawa nafsu, maka hal itu merupakan suatu bentuk kelemahan seseorang untuk melakukan amal kebaikan, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Nabi Saw berikut ini:

الكيِّس من دان نفسُه وعمِلَ لما بعْدَ الموت والعاجِزُ مَن اتْبَعَ نفْسه هواها وتمنَّى على اللهِ.

"Orang yang cerdas (bijak) adalah orang yang dirinya terasa rfendah dan ia melakukan amal yang akan diterima pahalanya setelah ia mati. Orang yang lemah (dungu) orang yang selalu mengikutihawa nafsunya dan ia hanya berangan-angan akan mendapatkan balasan dari Allah"

 

Artikel www.imambukhari.sch.id
Ust. Abu Fahmi Ahmad
Beliau adalah penulis, penerjemah, dan pembina di Pesantren Imam Bukhari

Pesantren Mafaza Indonesia
Pesantren Mafaza Indonesia
Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Limbangan Kabupaten Garut - JABAR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *